Pagi itu saya menonton berita di salah satu televisi swasta, dengan headline berita yang cukup mengejutkan. “PULUHAN ORANG SECARA TIBA-TIBA MASUK RUMAH SAKIT JIWA DI KENDARI”. Bagaimana bisa? Apa yang menyebabkan orang bisa seketika menjadi “gila” sampai harus masuk rumah sakit jiwa?

Saya pun mengikuti berita tersebut sampai selesai, menyaksikan setiap berita yang disampaikan, kronologis kejadian dan kemudian penyebabnya. Ternyata penyebabnya adalah akibat obat PCC. Apa sebenarnya kandungan PCC itu?

PCC adalah golongan obat yang merupakan kombinasi dari Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol. Paracetamol dan cafein sebenarnya bukan obat yang berbahaya karena sering kita dapatkan pada komposisi obat secara umum, juga tergolong sebagai obat bebas. Tetapi carisoprodol mungkin agak jarang kita jumpai saat ini. Ternyata obat ini sudah dihentikan izin peredarannya sejak tahun 2013 menurut sumber dari Badan POM dikarenakan besarnya efek penyalahgunaan dibandingkan efek terapinya. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas obat ini lebih lengkap :

Carisoprodol adalah salah satu jenis muscle relaxants (pelemas otot) yang biasa digunakan untuk mengobati cedera atau sakit pada otot. Obat ini hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, dan biasanya hanya digunakan untuk pemakaian jangka pendek. Selain itu obat ini memberikan efek penenang yang besar, menghilangkan rasa sakit, menyebabkan rasa senang berlebihan, relaksasi dan juga menghilangkan kecemasan. Mungkin inilah yang membuat disalahgunakannya obat-obat ini oleh para pelajar di Kendari. Saat akan diberikan obat tersebut, mereka diberitahukan bahwa obat ini bisa memberikan efek seperti di film-film “Zombie”. Dan memang betul saja setelah mengkonsumsi obat tersebut mereka memang menjadi seperti “Zombie”. Dengan gerakan tubuh yang tidak bisa mereka kendalikan, berhalusinasi, dan wajah yang terlihat sedikit memerah. Betapa bahayanya obat ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan kejadian tersebut? Obat yang kita konsumsi sebenarnya mempunyai efek yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Efek tersebut berbeda karena adanya perbedaan ukuran tubuh, toleransi dan resistensi obat dan juga faktor-faktor lainnya. Menurut beberapa dokter, pasien tersebut diberikan terapi farmakoterapi dan fisioterapi. Cara farmakoterapi yaitu diberikan obat-obatan yang bisa menetralisir obat sebelumnya. Cara fisioterapi diberikan dengan cara merangsang kembali kerja otot agar dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

Mudah-mudahan peristiwa ini tidak makin banyak mengambil korban lagi, dan bisa secepatnya ditangani oleh tim medis dari wilayah setempat.

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here