Menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab yang harus diemban oleh pasangan suami istri yang memutuskan untuk bersama-sama. Setelah sebelumnya menjalani kehidupan sebagai seorang anak yang hanya bermain dan belajar dan cenderung hanya memikirkan diri sendiri, saat menjadi orang tua seseorang dituntut untuk memikirkan “jiwa” lain yang selanjutnya tanggung jawabnya kemudian.

Jika sebelumnya di sekolah seseorang mengemban ilmu selama kurang lebih 12 tahun untuk pendidikan dasar, menjadi orang tua membuat seseorang harus belajar dengan cara alamiah, atau setidaknya menanamkan nilai-nilai yang telah didapatnya dari orang tua sewaktu kecil.

Lalu efektifkah cara tersebut?

Talkshow Pendidikan Orang tua hebat kali itu mengangkat berbagai tema seputar menjadi orang tua. Pembicara yang saat itu hadir Ibu Nyi Mas Diane, S.Psi atau yang lebih senang dipanggil Mba Di, menerangkan banyak hal seputar kekhawatiran yang dialami para orang tua saat ini. Mba Di termasuk orang yang sangat peduli dengan perkembangan anak dan seputar pengasuhan anak. Namanya pun sudah tidak asing karena sudah seringkali menjadi narasumber untuk talkshow yang bekerja sama dengan pemerintahan dan beberapa perusahaan swasta. Tidak hanya itu, Mba Di juga termasuk yang sangat peduli dengan nasib anak-anak di kolong jembatan dan kaum dhuafa. Bentuk perhatiannya yang besar pada anak-anak dia tuliskan dalam karangan bukunya berjudul “Didiklah anak sesuai zamannya”.

Parenting Journey

Dalam pemaparannya, Mba Di mengatakan bahwa peran orang tua adalah peran yang tidak tersiapkan. Jika dibandingkan dengan peran lain misalnya untuk  menajdi praktisi di bidang pendidikan tertentu, seseorang harus mengenyam pendidikan selama bertahun-tahun untuk mendapatkan gelar yang didinginkan. Betapa kita disiapkan menjadi seorang ahli, tetapi tidak disiapkan menjadi orang tua. Hal inilah yang membuat betapa banyak orang tua yang mengeluhkan mengenai anaknya yang bermasalah.

Salah satu penyebab anak bermasalah adalah ilmu yang kita miliki sebagai orang tua serba tanggung atau setengah-setengah. Akibatnya anak menjadi produk yang juga tidak tersiapkan menghadapi permasalahan di zaman sekarang.  Mba Di juga menegaskan kepada para orang tua yang hadir saat itu, seorang anak diibaratkan adalah kekayaan orang tua senilai 1 triliun atau bahkan tidak ternilai harganya. Bagaimana jika orang tua yang memiliki 2 atau 3 orang anak, betapa banyak kekayaan yang tidak ternilai harganya yang harus dia kelola dengan baik.

Anak adalah anugrah dan amanah dari Allah SWT yang lahir dalam keadaan fitrah dan suci. Perkembangan seorang anak dapat dibagi dalam 4 masa kehidupannya :

  • Tahap pertama (5 tahun pertama usia anak yaitu usia baru lahir hingga 5 tahun)

Saat anak baru lahir hingga usia 5 tahun pertama kehidupannya, seorang anak dikatakan adalah milik orang tuanya. Sehari-harinya hanya bersama orang tua atau pengganti orang tua. Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, dan diharapkan sebagai orang tua kita betul-betul memperhatikan perkembangan anak. Hal ini dikarenakan masa inilah yang merupakan masa keemasan seorang anak, dimana tumbuh kembang anak sangat pesat pada tahap ini.

  • Tahap kedua (usia 6 hingga 10 tahun)

Usia ini merupakan usia anak mulai memasuki usia sekolah. Pada tahap ini anak mulai mengenal dunia lain selain kehidupan dalam keluarganya. Tahap ini merupakan masa dimana anak lebih banyak dilibatkan dengan pengasuhan selain dalam keluarga. Sehingga dapat dikatakan pada tahap ini, anak adalah milik guru atau pembimbing di sekolahnya.

  • Tahap ketiga (usia 11 hingga 15 tahun)

Tahap berikutnya yang dimasuki seorang anak adalah masa dimana dia lebih banyak bermain dengan teman-temannya. Anak mulai lebih tertarik untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan temannya. Pada tahap ini, seorang anak dapat dengan mudah terpengaruh pada lingkungan tempatnya bergaul dan dimana dia menghabiskan waktunya.

  • Tahap keempat (usia 16 hingga 20 tahun)

Pada tahap ini, seorang anak telah memasuki masa dimana perkembangan pribadinya telah terbentuk. Anak juga telah memiliki minat dan kesukaan sendiri, sehingga dapat dikatakan pada tahap ini anak telah berada dalam dunianya sendiri.

  • Tahap kelima (usia 21 sampai seterusnya)

Usia ini adalah masa dimana pada umumnya seseorang memasuki usia pernikahan. Setelah menikah, seseorang akhirnya menjadi milik suami atau istri dan juga keluarga pasangannya.

Berdasarkan beberapa tahap dalam kehidupannya, masa terpenting adalah tahap pertama dalam kehidupan seorang anak.  Awal yang kuat adalah merupakan pondasi dalam mengarungi kehidupannya kelak. Ibaratnya pohon bambu, saat tertiup angin, pohon akan kembali berdiri tegak karena memiliki pondasi yang kokoh.

Didiklah anak sesuai dengan zamannya

Mba Di dalam karangan bukunya berjudul didiklah anak sesuai zamannya, mengatakan bahwa intisari dalam bukunya kali ini mengutip perkataan dari Ali bin Abi Thalib yaitu “Didiklah anak sesuai dengan zamannya, karena mereka tidak hidup di zaman kita hidup sebelumnya”.

Anak-anak yang hidup pada zaman sekarang atau sering kita dengar dengan istilah “kids zaman now” betul-betul berbeda dengan generasi saat kita masih kecil dulu. Apalagi kalau bukan gadget yang membawa perubahan terbesar untuk generasi saat ini. JIka dirangkumkan, perbedaan generasi antara zaman dulu dan zaman sekarang bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Generasi baby boomer (lahir pada tahun sebelum 1969)

Generasi ini adalah generasi para kakek, nenek dan para orang tua kita. Disebut generasi baby boomer karena pada masa ini orang-orang berlomba-lomba memiliki banyak anak. Generasi ini lahir dan besar di masa sebelum ada internet. Teknologi komunikasi yang digunakan berupa telepon rumah, telegram dan faksimili. Mayoritas generasi ini tergolong gaptek, sebab sudah mulai sulit mempelajari jenis teknologi baru.

  • Generasi X (lahir tahun 1969 – 1980)

Pada generasi ini sudah mulai dikembangkan komputer, video games dan jenis teknologi lainnya. Meskipun telah ada teknologi internet pada masa ini, namun perkembangannya masih sangat lambat dan belum menjangkau seluruh wilayah.

  • Generasi milenial atau generasi Y (lahir tahun 1981 -1994 )

Pada masa ini, teknologi tengah gencar dikembangkan. Ponsel dan internet belum terintegrasi, tetapi sudah sangat gencar jenis komunikasi seperti sms, email dan pesan instan seperti Yahoo Messenger dan lain-lain. Media sosial seperti Facebook dan Friendster sangat populer pada masa ini. Hal ini dikarenakan koneksi internet yang dapat dikatakan sudah lebih  baik, sehingga generasi ini adalah generasi yang sangat memperhatikan perkembangan teknologi dan selalu mengupdate informasi.

  • Generasi Z (lahir tahun 1995 – 2010)

Generasi yang lahir dari generasi X, yang usianya paling tua berusia 20 tahun. Generasi ini lahir pada masa dimana era internet sangat populer. Mereka hidup pada zaman dimana internet dapat diakses dengan mudah, cepat dan lumayan murah. Mereka juga terbiasa menggunakan aplikasi internet dan menggunakan gadget karena sangat mudah berdaptasi dengan teknologi komunikasi berbasis internet.

  • Generasi Alpha (lahir tahun 2010 hingga saat ini)

Merekalah generasi yang diprediksi paling canggih dalam penguasaan penggunaan teknologi komunikasi. Begitu lahir sudah mengenal smartphone, tablet, media sosial, serta bermacam teknologi canggih lain. Orang tua mereka sudah sangat melek teknologi, sehingga sedari bayi pun sudah dibuatkan akun media sosial, email, bahkan domain web. Nyaris sama dengan Generasi Y, Generasi Alpha menjalankan berbagai aplikasi online, dan internet sudah jadi bagian dari keseharian. Kelak, generasi ini akan menyimpan semua datanya secara online.

Dari perbedaan generasi di atas, tantangan terbesar yang dihadapi orang tua saat ini pastilah gadget dan jenis perangkat komunikasi berbasis internet. Alih- alih melarang, anak- anak akan semakin melakukan dan mencari di tempat lain. Permasalahan inilah yang sebagian besar dihadapi para orang tua zaman sekarang.

Lalu bagaimana solusinya?

Dalam talkshow bersama para peserta saat itu, Mba Di menerangkan bahwa solusi dalam membina hubungan harmonis dalam keluarga adalah yang terpenting dalam mengendalikan berbagai tantangan di masa yang akan datang. Komunikasi dan kasih sayang adalah kunci yang bisa mengendalikan hubungan dalam keluarga.

Jika digambarkan secara terperinci, dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Tanamkan konsep dasar ketuhanan dan keagamaan dimulai dari dalam rumah
  • Wajib belajar sejarah kebangsaan
  • Persiapkan anak di era digital
  • Berikan rasa imun kepada anggota keluarga
  • Bangun keselamatan dan keamanan dalam keluarga
  • Sadar hukum
  • Beri teladan atau contoh yang baik

Menghadapi era digital

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kita memasuki masa dimana segala informasi yang kita dapatkan berhubungan dengan dunia digital. Masa dimana segala informasi bisa masuk dan kabar buruknya ini sangat mempengaruhi sebagian besar kehidupan manusia. Jika tidak disaring, informasi bisa masuk kapan saja, dimana saja dan apapun bentuknya.

Pembicara lainnya yang turut hadir saat itu adalah Bapak Amal Hasan, seorang  pakar Teknologi Informasi yang merupakan KLeader Google Educator Sulawesi Selatan. Sehari-harinya lebih sering berkecimpung dalam dunia IT khususnya untuk pendidikan anak. Dalam pemaparannya saat itu bapak Amal Hasan yang dalam dunia IT lebih sering dipanggil Eyank, membahas bagaimana pemanfaatan gadget yang  sehat untuk anak.

Terangnya lagi, gadget dan anak itu seperti tidak bisa dipisahkan lagi karena sudah terbiasa digunakan sedari kecil. Jika hanya dilarang anak akan tetap menggunakan karena begitu banyak informasi yang dia dapatkan dengan memegang gadget. Internet itu ibaratnya seperti sungai, dan kita sebagai orang tua tidak dapat melarang anak mendekati sungai karena takut dia tenggelam, tetapi kita hanya bisa mengajarkan anak berenang agar bisa melihat dan mengarungi sungai sampai tujuan.

Teknologi itu sebenarnya bersifat mudah dan memudahkan siapa saja, yang membuatnya terasa sulit karena begitu banyak merubah kebiasaan sehari-hari. Namun jika digunakan dengan bijak, begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan teknologi informasi pada masa sekarang ini.

Bapak Amal juga kembali berbagi kiat dalam menggunakan gadget dengan bijak. Utamanya kita para orang tua yang ingin mengontrol aktivitas anak menggunakan sosial media. Berikut beberapa rangkumannya :

  • Sinkronkan akun pribadi anda pada gadget anak, sehingga segala aktivitas informasi yang dilihatnya bisa anda pantau
  • Pantau aplikasi android yang diinstal anak, perhatikan tanda umur yang bisa mengakses informasi, misalnya ada tanda 12+ atau 18+
  • Pada aplikasi google map, aktifkan dan pelajari penggunaan “berbagi lokasi atau sharing location” sehingga Anda bisa mengetahui kemana saja anak pergi sehari-hari.

Peran orang tua memang adalah peran yang tidak mudah tetapi juga tidak sulit jika kita sebagai orang tua bisa belajar dan paham dengan dunia teknologi yang berperan besar dalam dunia anak saat ini.

Jadi Orang tua hebat?? Ya, Pasti Anda bisa… 🙂

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here